Translate

Senin, 20 Agustus 2012

LOVE YOU, MOM…


Shasa mengintip melalui pintu kamar mama yang sedikit terbuka. Dilihatnya mama sedang separuh bersandar di tempat tidurnya. Dua tumpuk bantal mengganjal punggungnya. Perhatiannya tertuju pada buku yang ada di tangannya.
“Ma,” panggil Shasa.

Mama mengangkat pandangan matanya. “Ada apa, Cantik?” tanya mama.
Shasa terkikik-kikik mendengarnya. Senang rasanya dipanggil Cantik tapi terkadang lucu juga.
Mama menatap putrinya yang berpipi chubby. “Ditanya kok malah tertawa?” tanya mama lagi.
Shasa melangkah masuk ke dalam kamar. Dinaikinya tempat tidur mama kemudian membaringkan tubuhnya disamping mama.
“Karangan Shasa terpilih untuk diikutsertakan dalam lomba tingkat daerah, Ma,” kata Shasa.
“Wah… hebat dong..,” puji mama.
Shasa terdiam. “Tapi Shasa sebel, Ma,” kata Shasa.
“Loh, kenapa?” tanya mama heran. “Bukannya seharusnya Shasa senang?”



Shasa kembali terdiam. “Senang sih, Ma.. tapi..”
“Tapi.. apa?” Mama bertanya ingin tahu. Ditutupnya buku yang ada di tangannya.
“Masa’ temen-temen Shasa bilang gini, wajar saja kalau karangan Shasa terpilih ikut lomba. Mama Shasa kan pengarang. Iya sih, mama mengajarkan Shasa cara membuat karangan tapi karangan ini kan Shasa yang membuatnya. Shasa kan jadi sebel,” Shasa nyerocos. Bibirnya cemberut. Pipinya menggembung.
Mama tersenyum simpul mendengar ocehan putri sulungnya. “Jadi, gimana dong? Mama harus berhenti menulis gitu?” Mama bertanya meledek. “Supaya kalau karangan Shasa nanti menang tidak dihubung-hubungkan dengan mama?”
Shasa terdiam. Mulutnya masih cemberut. “Ya, nggak gitu juga, Ma,” katanya setelah terdiam beberapa saat. “Masa’ mama harus berhenti menulis cuma gara-gara begitu aja sih?”
Mama menepuk lengan Shasa. “Nah, kalau begitu, biarkan saja teman-teman Shasa berkomentar seperti itu. Tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Bisa jadi mereka sebenarnya ingin bisa mengarang sebaik Shasa.”



Shasa kembali terdiam. Mulutnya tidak lagi cemberut.
“Begini saja deh,” Mama kembali menepuk lengan putrinya itu. “Kalau teman-teman Shasa mau, mereka bisa belajar menulis karangan sama mama.”
“Beneran, Ma?” Shasa bertanya memastikan.
“Beneran,” mama menegaskan. “Nanti mereka bisa mengirim karangan yang mereka buat ke majalah dinding sekolah atau ke majalah anak-anak.”
Shasa menepuk lengan mama dengan semangat. “Oke deh, Ma, nanti Shasa beritahu teman-teman Shasa.” Shasa bangkit dengan semangat. Sebelah kakinya sudah hampir menjejak lantai kamar ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu.“Eh, Shasa kok sudah beberapa hari ini tidak melihat mama mengetik?”
Mama mengambil buku yang tadi ditutupnya. Tangannya membolak-balik halaman buku sampai menemukan halaman yang sebelumnya sedang dibaca.
“Mama sedang gak mood menulis,” jawab mama. Perhatiannya sudah kembali tertuju pada huruf demi huruf yang ada di hadapannya.



“Loh, kenapa?” Shasa bertanya dengan heran.
Mama tersenyum simpul. “Aa..da.. deehh.. Mau tahu ajee..”
Shasa memonyongkan bibirnya. “Huuu… Mama gak asyik ah,” katanya sambil berjalan menuju pintu kamar. “Nanti kalau tidak menulis, tidak dapat honor dari tulisan lagi loh, Ma,” Shasa mengingatkan.
“Oiya.. ya..,” Mama menutup buku yang baru saja dibacanya. “Kalau begitu mama menulis saja lah sekarang. Kalau tidak dapat honor, nanti mama tidak bisa membelikan es krim buat putri mama yang cantik.”
Shasa terkikik-kikik mendengarnya. Itu enaknya punya mama penulis. Kalau mama habis menerima honor, mama suka mentraktir Shasa es krim kesukaan Shasa. Love you mom..

Erlita Pratiwi
erlitapratiwi @cbn .net .id

Pesan Untuk Pengunjung

Jangan lupa sholat, beramal sholeh, dan zakat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ilmu tidak bisa di dapat dengan badan yang santai

Asal Negara Pengunjung